Sabtu, 17 Maret 2012

Perang notebook lokal


Melihat persaingan penjualan notebook murah di Indonesia, semakin hari semakin “panas” saja. Tak hanya bermain di sisi harga, para produsen juga bermain di sisi kualitas produk yang dijualnya.
Coba lihat Zyrex yang merupakan produsen notebook lokal. Setelah merasa yakin produknya bisa diterima konsumen Indonesia, produsen notebook itu lantas memilih untuk berinovasi dengan melahirkan produk-produk baru yang murah, plus teknologi yang tidak kalah dibanding vendor lainnya.

Gebrakan Zyrex meluncurkan produk teranyar, paling tidak menjadi barometer pasar pada bulan-bulan ini
Para pengamat marketing memperkirakan munculnya produk baru Zyrex itu akan segera diikuti oleh kompetitor yang tentunya menawarkan harga dan kualitas yang tak kalah dibandingkan yang sudah dikeluarkan Zyrex.
Ya, bagaimanapun, lahirnya sebuah produk oleh satu pabrikan akan direspon oleh pabrikan lainnya guna memenangkan persaingan. Bahkan, produsen notebook yang sebelumnya bermain di harga mahal, ikut-ikutan masuk menyasar pasar notebook murah.
Memang selama ini notebook murah identik memiliki performance yang tidak terlalu jauh dengan harganya, bisa dikatakan harga murah memperoleh performance yang rendah. Bila ingin memperoleh mini notebook dengan performance yang tinggi maka harga makin mahal pula.
Seperti yang terlihat pada awal-awal kemunculan notebook murah. Tahun lalu ASUS mengeluarkan notebook murah mereka yang diberi nama Eeec, sebagai jawaban atas mulai ketatnyapersaingan di pasar notebook murah.
Sebelumnya notebook Elonex dengan harga yang lebih murah 1 juta rupiah dibandingan Asus Eeec, namun saat ini ada satu lagi pilihan lain yaitu Alpha 400 dari BestLink.
Hingga saat ini sudah berpuluh merek notebook yang menyesaki pasaran. Mulai dari notebook bermerk luar dan branded, seperti Acer, Toshiba, HP, Asus, dan lain-lain, sampai merk lokal seperi Zyrex dan Relion.
Seperti yang dipilih oleh Toshiba, pabrikan notebook mahal itu lantas “banting setir” menyasar segmen pasar notebook kelas bawah dengan target kontribusi penjualan sebesar 70% tahun ini.
Gunawan Nugroho, President Director PT Techking Enterprises Indonesia-distributor notebook Toshiba menuturkan perubahan strategi itu diproyeksikan bisa membalik persentase pendapatan yang bisa diperoleh, yaitu 70% dari kelas bawah, dan sisanya 30% dari kelas atas.
Sebelumnya pabrikan itu mengakui tahun lalu kontribusi segmen kelas bawah baru mencapai 30%, sedangkan sisanya 70% dari segmen notebook kelas atas.
Tahun lalu Toshiba belum optimal menggarap pasar notebook murah itu, tetapi jumlah unit yang dikirim masih terbatas.
“Sekarang krisis ekonomi global mempercepat kami menggarap pasar low end, tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Daya beli masyarakat memang trennya bergeser,” tuturnya.
Toshiba memilih langkah itu karena tidak bisa lagi bertahan hanya menggarap pasar kelas atas dan menengah, sementara jumlah konsumen kelas bawah sangat banyak dan masih potensial di garap.
Jumlah konsumen notebook dan netbook kelas bawah di Indonesia saat ini mencapai 80% dari total kue pasar yang ada.
Sejauh ini Toshiba di Indonesia masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar Toshiba di Asean dan India, yaitu sebesar 35% dari total pendapatan selama 2008.
Penjualan notebook tahun ini diprediksi mencapai 1,3 juta unit, naik 18% dibandingkan dengan total penjualan 2008 sebanyak 1,1 juta unit. Sekitar 20% pasar notebook tahun ini berasal dari segmen netbook (laptop ukuran kecil).
Salah satu pemain netbook adalah Lenovo. Pabrikan asal China itu memproyeksikan bisa mencatat pertumbuhan bisnis di Indonesia lebih dari 50% seiring dengan tingginya respons dari pasar konsumer lokal.
Irene Santosa, Country Manager Transactional Business Lenovo Indonesia, menuturkan respons pasar terhadap netbook atau produk komputer seri S Lenovo tinggi.
Salah satu pendorong peningkatan kinerja penjualan tersebut adalah permintaan netbook yang melebihi persediaan.
Ke depan Indonesia diposisikan sebagai pasar yang potensial bagi Lenovo khususnya di segmen konsumer, pemerintah dan usaha kecil menengah.
Untuk keperluan itu, Lenovo memilih untuk menyeimbangkan desain dan fitur untuk pasar lokal, serta melanjutkan upaya memperkuat distribusi.
Bahkan, kehadiran netbook lama-lama menggeser dominasi notebook.Laporan International Data Corporation (IDC) mengungkapkan volume penjualan netbook di dunia selama kuartal I/2009 sebesar 5,7 juta unit dengan omzet US$2,2 miliar ternyata melampaui perkiraan.
Tak dimungkiri, para produsen notebook sepertinya berlomba-lomba untuk meraup potensi pasar dari produk notebook dan netbook segmen bawah. Berbagai penawaran promo beserta fitur yang menggoda digeber habis-habisan.
Fitur Minimalis
Bagaimanapun, murahnya harga notebook ini bukannya tanpa sebab. Hal ini lantaran bandrol harga yang dilekatkan sudah diperhitungkan secara cermat oleh si produsen atau vendor.
Hal ini terlihat ketika persaingan notebook murah semakin sesak di pasar, berbagai laptop mahal dengan harga di atas Rp20 juta per unit pun tetap ditawarkan oleh para vendor. Dan tentu saja, itu tetap laku.
Beberapa pertimbangan pemberian harga yang murah adalah bahan baku maupun komponen yang digunakan ada didalamnya.
Semisal bahan baku casing pada notebook harga murah dibandingkan dengan yang mahal tentu saja berbeda.
Casing di notebook yang mahal tentu saja lebih kuat dan tahan banting dibanding notebook bandrol murah. Notebook mahal dengan harga Rp30 juta per unit lebih banyak dipilih oleh para profesional yang mobile lantaran memiliki struktur penulangan dan casing yang memang dirancang untuk kondisi berat
Namun, jika notebook itu hanya digunakan dalam ruangan untuk supporting pekerjaan yang tidak terlalu membutuhkan software yang kompleks, tentu saja laptop dengan harga murah bisa jadi pilihan.
Aspek pertimbangan lainnya adalah sistem pembuang panas. Pada dasarnya, notebook atau laptop tetaplah sebuah komputer yang bekerja dan menghasilkan panas. Suhu ini mempengaruhi masa pakai dari laptop.
Jika piranti itu dipasang dalam casing yang berukuran mini, maka panas yang dihasilkan jelas-jelas mempengaruhi kinerja atau bahkan kenyamanan pengguna. Lantas menjadi sesuatu yang lazim, bahwa para pengguna laptop murah banyak yang mengeluh mengenai efek panas yang dihasilkan itu.
Laptop yang mahal mempunyai aliran pembuangan panas yang lebih bagus daripada yang murah. Yang jelas, dengan sistem yang lebih bagus itulah, keluhan mengenai efek panas notebook tidak terlalu banyak dijumpai.
Komponen yang digunakan dalam pembuatan laptop juga menjadi faktor yang membedakan harga yang murah dengan yang mahal.
Mungkin prosesor maupun hard disk dia dua jenis notebook itu sama besarnya. Namun beberapa komponen tentu telah mengalami degradasi. Misal penggunaan VGA OnBoard atau Kartu Grafis yang terintegrasi.
Penggunaan komponen yang terintegrasi sangat efektif menekan harga jual notebook. Hal ini lantaran VGA yang terintegrasi memang solusi untuk mendapatkan harga yang ekonomis dari suatu sistem komputer personal.
Berbeda dengan notebook dengan harga tinggi. Produk tersebut menggunakan spesifikasi VGA 3rd party terkemuka seperi nVidia, GeForce maupun Ati Radeon. Sedangkan notebook murah menggunakan VGA milik board yang mengalokasikan memori.
Lokal Vs Asing
Tak dimungkiri, Acer hingga saat ini masih mendominasi pasar notebook murah di Indonesia. Bahkan belakangan ini pabrikan itu menghadirkan notebook eMachines.
Merek yang merupakan hasil akuisisi Acer ini ditujukan untuk meraup pasar low end dengan harga lebih murah. Kendati demikian laptop ini menawarkan fitur mantap.
Sekedar review, produk tersebut memiliki desain yang elegan. Dibungkus bahan anti gores, layar tampak lebih lebar dari kebanyakan laptop. Sudah begitu D725 juga mendukung format HD 16:9 dengan resolusi 1366Χ768. Bandingkan dengan laptop lain yang biasanya 1200Χ800 pixel.
eMechines menggunakan baterai laptop 6 cell sehingga dapat bertahan empat jam lebih dengan WiFi on terus.
Sekadar diketahui, Notebook eMechine ini merupakan hasil perkawinan Packard Bell dan Gateway. Hasil perkawinan dua merek ini lalu diluncurkan eMachines ke pasar lokal.
Akuisisi ini juga merupakan sebuah kesuksesan Acer dalam menerapkan strategi multibrand, yaitu Acer, Packard Bell, Gateway, dan eMachines.
eMachines merupakan satu set produk yang berupa PC dan laptop yang disasarkan untuk pengguna pemula komputer. Keberadaan eMachines di Indonesia diharapkan dapat menjangkau pengguna teknologi lebih luas lagi.
Ketersediaan eMachines di Indonesia akan memperluas penetrasi notebook. Melalui produk ini, Acer memberikan kesempatan akses teknologi bagi pengguna komputer pemula, small office home office (SOHO), dan kalangan pelajar yang berdomisili di daerah.
Namun demikian, kisah berbeda justru ditunjukkan oleh IDC. Lembaga tersebut pada awal tahun ini merilis data bahwa vendor komputer lokal membuktikan bahwa mereka mampu bersaing dengan merek asing.
Produsen dalam negeri berhasil menguasai 5,6% pangsa pasar PC bermerek (branded) dengan kontribusi terbesar pada segmen desktop.
Handoko Andi, Market Analyst Personal Systems Research Group IDC Indonesia, mengatakan hasil dari Januari hingga September tahun lalu menunjukkan vendor lokal menguasai pangsa sebesar 7,7% dari total pasar desktop dan mencapai 5,6% jika digabung dengan pasar notebook.
Lembaga tersebut juga memperkirakan vendor lokal juga akan lebih mendongkrak bisnis komputer jinjingnya untuk menangkap peluang pasar setelah mereka merasa di segmen desktop sudah cukup kuat.
Proyeksi tersebut setidaknya menjadi semacam sinyal bahwa produsen notebook lokal bisa bersaing dengan pabrikan asing.
Marketing Manager Zyrex Rendy mengatakan pihaknya ke depan akan lebih banyak menggenjot penjualan notebook murah, seiring dengan terbukanya pasar, seperti halnya penggunaan di kalangan sekolah.
Menurutnya, brand produk yang kuat memang dibutuhkan, namun tidak selalu menjadi hal yang menentukan untuk memenangkan kompetisi di pasar notebook murah.
“Ada konsumen yang tidak terlalu gengsi dengan merek, namun mereka lebih mencari sisi fungsionalnya. Kami akan membidik pasar dengan karakteristik tersebut,” ujarnya.
Menurut Rendy, biasanya pembeli notebook yang murah adalah konsumen yang tidak begitu banyak membutuhkan fitur atupun program yang advance. Kalau dalam produk notebook yang murah diberi fitur tersebut, justru tidak berguna.
“Kalau diberikan fitur maupun program yang baru, tentu saja hal itu tidak akan terpakai dan sia-sia. Kami merancang notebook yang dijual benar-benar sesuai dengan kebutuhan pembeli yang kami bidik,” tuturnya.
Beberapa strategi yang diambil Zyrex dalam berkompetisi adalah memberikan diskon, hingga pemberian bonus.
Bonus yang diberikan di antaranya berupa printer serta perangkat penunjang lainnya. Sementara itu diskon diberikan dengan harga yang lebih rendah dari yang dibanderol.
Rendy mengakui strategi itu tidak selalu bisa diterapkan di setiap daerah. Contohnya di Jakarta, pemberian bonus justru tidak efektif mendongkrak penjualan.
“Sebaliknya, konsumen di Jakarta lebih suka pemotongan harga. Sementara itu di beberapa daerah ada yang efektif menggunakan pemberian bonus sebagai pendongkrak penjualan,” ujar Rendy.
Dia optimistis bisa memperbesar penjualan seiring dengan bergulirnya program pemerintah yang menggagas komputerisasi sekolah.
Sebagaimana diketahui, pemerintah akan mewajibkan guru memiliki laptop untuk mendukung rencana pendidikan berbasis Internet.
Menteri Pendidikan Nasional Bambang Soedibyo beberapa waktu lalu mengatakan mulai tahun ini para guru termasuk guru SD wajib mengetahui Internet, karena metode pendidikan nanti diharapkan berbasis Internet.
Untuk dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang digulirkan pemerintah pusat untuk SD/MI dan SMP/MTS tahun ini meningkat 50% dibandingkan dengan 2008.
Jumlah dana BOS yang diberikan untuk setiap siswa SD/MI saat ini mencapai Rp397.000 per tahun, sedangkan untuk tingkat SMP/MTs Rp570.000 per tahun.
Namun Rendy menuturkan kurangnya transparansi serta keberpihakan pemerintah terhadap produk notebook lokal menjadi salah satu hambatan pabrikan lokal berkuasa di negeri sendiri.
“Karena itu perlu keberpihakan pemerintah. Kalau bisa, program-program yang digulirkan itu mewajibkan penggunaan komputer yang diproduksi oleh lokal,” ujarnya.

sumbernya:
http://aergot.wordpress.com/2009/08/23/perang-notebook-lokal/
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;