Ahli fiqih
membatasinya dengan mengatakan: dia adalah pemakaian apa-apa yang memperindah
dan menghiasi seorang hamba, dan meninggalkan apa-apa yang mengatori dan
menodainya.
Dan dikatakan juga: sesungguhnya dia adalah
terkuasainya syahwat oleh akal.
Dan dikatakan juga: muru’ah adalah
menggunakan setiap akhlak yang baik dan menjauhi setiap akhlak yang jelek.
Berkata Imam Ibnu Qoyyim: dan hakikat
muru’ah adalah menjauhi dunia dan seluruh perkara yang hina, dari
perkataan-perkataan, akhlak-akhlak maupun amalan-amalan.
Tingkatan Muru’ah
Tingkatan pertama:
Muru’ahnya seseorang terhadap jiwanya. adalah
dengan membawanya secara paksa menuju sesuatu yang memperindah dan menghiasi,
dan meninggalkan setiap yang mengotori dan menodai agar mengusai pada keadaan
saat terang-terangnya.
Keismpulannya adalah; tidak mengerjakan saat
sepi apa yang dia merasa malu mengerjakannya saat ramai, kecuali apa-apa yang
tidak dilarang secara syari’at maupun akal.
Tingkatan kedua:
Muru’ah bersama sesama makhluk. Yaitu dengan
memakai syarat-syarat adab, rasa malu dan akhlak yang indah bersama mereka, dan
tidak menampakkan kepada mereka apa yang dia sendiri membencinya dari orang
lain untuk dirinya.
Maka setiap apa yang dia benci dan lari
darinya, baik dari perkataan, perbuatan atau akhlak maka hendaklah dia
menjahuinya. Dan setiap apa yang dia cintainya dari hal itu dan menganggapnya
baik maka hendaklah dia melakukannya.
Dan pemilik kebenaran ini dia akan mengambil
manfaat dengan setiap orang yang bercampur dengannya dan menemaninya, baik dari
sesuatu yang sempurna, yang kurang, suatu akhlak maupun menganggapnya baik. Dan
tidak adanya muru’ah dan ketika memilikinya..
Dan ini tercapai dengan mengetahui
akhlah-akhlak yang mulia pada lawan dari akhlaknya. Dan bisa dengan melatih
jiwa atas menemaninya, dan menggaulinya serta sabar diatasnya.
Tingkatan ketiga:
Muru’ah bersama al-Haq yaitu Alloh.
Yaitu dengan merasa malu dari melihat-Nya kepadamu, dan pengawasan-Nya terhadap
dirimu pada setiap saat dan hembusan nafas serta perbaikan-Nya terhadap cacat
dirimu selagi dimungkinkan.
Madarijus Salikin
2 / 366-368
oleh:
Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah
