Jumat, 17 Februari 2012

Hakikat Muruah


Hakikat Muru’ah
   Ahli fiqih membatasinya dengan mengatakan: dia adalah pemakaian apa-apa yang memperindah dan menghiasi seorang hamba, dan meninggalkan apa-apa yang mengatori dan menodainya.
   Dan dikatakan juga: sesungguhnya dia adalah terkuasainya syahwat oleh akal.
   Dan dikatakan juga: muru’ah adalah menggunakan setiap akhlak yang baik dan menjauhi setiap akhlak yang jelek.
   Berkata Imam Ibnu Qoyyim: dan hakikat muru’ah adalah menjauhi dunia dan seluruh perkara yang hina, dari perkataan-perkataan, akhlak-akhlak maupun amalan-amalan.
 Tingkatan Muru’ah
  Tingkatan pertama:
   Muru’ahnya seseorang terhadap jiwanya. adalah dengan membawanya secara paksa menuju sesuatu yang memperindah dan menghiasi, dan meninggalkan setiap yang mengotori dan menodai agar mengusai pada keadaan saat terang-terangnya.
   Keismpulannya adalah; tidak mengerjakan saat sepi apa yang dia merasa malu mengerjakannya saat ramai, kecuali apa-apa yang tidak dilarang secara syari’at maupun akal.
  Tingkatan kedua:
   Muru’ah bersama sesama makhluk. Yaitu dengan memakai syarat-syarat adab, rasa malu dan akhlak yang indah bersama mereka, dan tidak menampakkan kepada mereka apa yang dia sendiri membencinya dari orang lain untuk dirinya.
   Maka setiap apa yang dia benci dan lari darinya, baik dari perkataan, perbuatan atau akhlak maka hendaklah dia menjahuinya. Dan setiap apa yang dia cintainya dari hal itu dan menganggapnya baik maka hendaklah dia melakukannya.
   Dan pemilik kebenaran ini dia akan mengambil manfaat dengan setiap orang yang bercampur dengannya dan menemaninya, baik dari sesuatu yang sempurna, yang kurang, suatu akhlak maupun menganggapnya baik. Dan tidak adanya muru’ah dan ketika memilikinya..
   Dan ini tercapai dengan mengetahui akhlah-akhlak yang mulia pada lawan dari akhlaknya. Dan bisa dengan melatih jiwa atas menemaninya, dan menggaulinya serta sabar diatasnya.
  Tingkatan ketiga:
   Muru’ah bersama al-Haq yaitu Alloh. Yaitu dengan merasa malu dari melihat-Nya kepadamu, dan pengawasan-Nya terhadap dirimu pada setiap saat dan hembusan nafas serta perbaikan-Nya terhadap cacat dirimu selagi dimungkinkan.


Madarijus Salikin
2 / 366-368
oleh:
Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;