Minggu, 20 Mei 2012

Terahir di Kamar Gelap

 Wahai anakku…
Ketika salah seorang di antara kita lahir ke dunia, iapun belajar apa yang ada di sekelilingnya. Setelah itu ia mulai mengenal jalan-jalan disekitarnya dan  masuk pada sebuah sekolah. Pengetahuannya semakin luas dan pengalamannya-pun semakin banyak.
Begitulah keadaan kita ketika lahir ke dunia, seperti seorang yang berada di ruang besar yang gelap, yang ruangan itu dipenuhi oleh berbagai bentuk dan bermacam-macam benda yang ia tidak ketahui karena ia tidak melihatnya.


Seperti itulah kita lahir ke dunia ini, kita tidak mengerti apa-apa, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Taala :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا
" Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun ". (An-Nahl: 78)

Ia memiliki seribu pertannyaan tentang ruang dan isi ruangan yang ia berada di dalamnya, pertanyaan-pertanyaan yang ia belum memilki jawabannya.

Karena ia telah hidup di dalam ruangan itu, ia mulai mempelajari hal-hal sederhana yang ada padanya, lalu ia mulai mencoba mengenal bentuk-bentuk dan mencoba mengunakan benda-benda.
Ia tidak sendiri dalam ruangan itu, banyak teman yang menemaninya. Karena kegiatannya mengunakan benda-benda yang ada  bersamanya, serta pergaulan dan hidup bersama teman-temannya, terungkap baginya banyak hal tersembunyi dan ia mengenal banyak yang tidak ia ketahui sebelumnya.

Namun, walaupun ia telah hidup dalam waktu yang lama di dalam ruangan itu; ternyata masih banyak pertanyaan yang belum ia ketahui jawabannya.

Wahai putra putriku…!
Di dalam kehidupan ini, kita berusaha untuk mengenal diri kita dan mengenal orang di sekitar kita. Kita belajar memahami aturan-aturan dan hukum-hukum kauniyah  di alam semesta. Kita belajar tentang apa kewajiban kita pada kehidupan ini, dan bagaimana kita mengahadapi tantangan-tantangan yang ada padanya.
Akan tetapi pada akhirnya, kita meninggalkan dunia ini dan masih banyak hal-hal yang belum jelas bagi kita dan pertanyaan-pertanyaan yang kita bingung bagaimana cara menjawabnya. Karena keadaan kita adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Taala :
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
" Tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit ". (Al-Isra: 85)
Wahai anak-anakku…!
Apa arti semua ini bagi kita ?

Arti semua ini bagi kita adalah :
1.       Seorang manusia tidak mengetahui sesuatu kecuali sesuatu yang ia pelajari.
2.    Hendaklah kita menjadi orang yang tawadhu' (tidak menyombongkan diri), sungguh sangat baik kalau ketawadhu'an kita sesuai dengan keadaan dan kebodohan kita.
3.     Nilai kita adalah sesuai dengan ilmu yang kita miliki dan ketrampilan yang kita kuasai. Semakin banyak yang kita ketahui dan bisa kita lakukan, semakin tinggilah nilai diri kita dan semakin mudah kita mencapai tujuan yang kita inginkan.
4.       Awalnya kita tidak mengetahui sesuatu, dan pengetahuan kita tidak meliputi seluruh aspek permasalahan. Oleh karena itu, janganlah kita menghukumi suatu perkara sampai benar-benar jelas di hadapan kita.
5.       Pengetahuan kita terhadap sesuatu terkadang hanya dari sisi tertentu dan terkadang hanya kulitnya saja; oleh karena itu perlu penelitian mendalam untuk memahaminya dan betul-betul mengenalnya. Dan itu dapat kita lakukan apabila kita memiliki akal yang terbuka untuk belajar dan jiwa yang haus akan ilmu pengetahuan.
(Ila Abna'i wabanati (Wahai Putra Putriku), Prof. DR. Abdul Karim Bakkar, hal 9-10. Diterjemahankan secara bebas oleh Sanusin Muhammad)

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;