Rabu, 02 Mei 2012

Jangan Hiraukan Komentar Orang, Sebuah Hikayat Unik


Kali ini kita menambah daftar ARTIKEL SANTRI dengan pembahasan yang cukup seru dan menarik yang paling tidak minimalnya bisa menarik mata anda dari pandangan yang aneh-aneh. Baiklah kita mulai saja…
 
Kita dapat saja SEPAKAT menetapkan bahwa ternyata komentar dan kritik orang itu bermacam-macam.

Ada orang yang mengkritik Anda karena ia ingin memberi NASEHAT, dengan bekal keterampilannya dalam memberi nasehat, Anda akan senang dengannya dan bergembira bila bertemu dengannya.


Ada juga yang tujuannya sama yaitu memberi nasehat, namun ia tidak memiliki keterampilan sehingga Anda lebih sering sedih bertemu dengannya daripada bergembira. Kalau saja dia mau “DIAM” pastinya lebih Anda sukai.

Ada juga orang yang memang DENGKI kepada Anda dan hanya ingin membuat Anda “tersiksa”.

Ada juga orang yang memang bertitel KRITIKUS, yang profesinya adalah mengkritik orang. Ia memandang orang lain tak ubahnya MAKHLUK HITAM.

Sebuah pepatah kuno milik pedangang mengatakan, “Kalau selera orang SAMA, barang dagangan tidak akan pernah laku”.

Dahulu ada sebuah HIKAYAT UNIK, ada seseorang pedalaman yang hari-hari hidup di pelosok desa alias “NDESO”. Suatu saat ia ingin pergi bersama anak-anaknya untuk melakukan sebuah keperluan, sang ayah berada di punggung keledainya, sementara kedua anaknya berjalan di samping keledainya.

Sesampainya di sebuah perkampungan lain, ia melewati sejumlah orang yang tengah berkumpul-kumpul, salah satu dari mereka mengatakan, “Lihatlah seorang ayah yang KEJAM ini… ia duduk di atas punggung keledainya keenakan sementara anaknya berjalan kaki di bawah terik matahari yang menyengat…!”

Sang ayah mendengar komentar itu, langsung “tanggap dan merespon dengan sigap”, segera ia turun dari punggung keledainya dan menyuruh kedua anaknya menggantikan tempatnya.
Belum berapa langkah mereka tempuh, sang ayah merasa “tidak enak” juga. Tiba-tiba kebetulan sekali ada orang lain yang melihatnya seperti itu berkomentar, “Lihatlah anak-anak yang durhaka ini, dia tega membiarkan ayahnya berjalan kaki disengat panasnya matahari dan disekap kucuran peluh!”.

Sang ayah senangnya bukan main, “secepat kilat” ia LONCAT ke punggung keledainya karena sejak tadi matanya MELIRIK ke punggung keledai itu. Nah kini semuanya bisa merasakan enak.

Tapi…..
Belum lama lagi melangkahkan kaki, keledai kurus itu berpapasan segerombolan kafilah dagang yang lewat, ternyata salah satu dari mereka menyeletuk, “Lihatlah orang-orang yang kejam ini, mereka tidak memiliki rasa KASIHAN kepada binatang yang kurus ini, semoga Allah melaknat mereka”.

Sang ayah pun turun dan berkata kepada anaknya, “Nak, ayo kita turun, kita semua jalan saja”. Akhirnya keledai itu pun berjalan sendiri dan tidak ada yang menumpanginya.
Setelah berjalan lagi, ternyata lagi-lagi ada yang berkomentar, “Lihatlah orang-orang yang bodoh ini, mereka berjalan kaki membiarkan keledainya KOSONG tanpa penumpang, bukankah keledai itu hewan tunggangan yang diciptakan untuk dinaiki?.”

Sang ayah lalu BERTERIAK sekeras-kerasnya aaaaaaaaaaaaaa………….., lalu menarik tangan anaknya berdua masuk ke bawah keledai itu dan memikulnya. Baru setelah itu dia bersikeras untuk tidak memperhatikan komentar orang lagi.

Begitulah nasib orang yang selalu menanggapi semua komentar orang. Padahal… keinginan semua manusia itu tak akan pernah tercapai.

Oleh karenanya, berpendirianlah jangan menghiraukan komentar yang menyiksa anda. Dan pesan saya, jangan lupa tulis komentar anda di bawah, terserah mau berkomentar setuju atau tidak, pokonya apa saja yang bisa di buat komentar silahkan ditulis daaaannnn…..

Salam online dari ABU SA'D pemilik blog ARTIKEL SANTRI...

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;