Kali ini
kita menambah daftar ARTIKEL SANTRI dengan pembahasan yang cukup seru
dan menarik yang paling tidak minimalnya bisa menarik mata anda dari pandangan yang
aneh-aneh. Baiklah kita mulai saja…
Kita dapat
saja SEPAKAT menetapkan bahwa ternyata komentar dan kritik orang itu bermacam-macam.
Ada orang
yang mengkritik Anda karena ia ingin memberi NASEHAT, dengan bekal
keterampilannya dalam memberi nasehat, Anda akan senang dengannya dan bergembira
bila bertemu dengannya.
Ada juga
yang tujuannya sama yaitu memberi nasehat, namun ia tidak memiliki keterampilan
sehingga Anda lebih sering sedih bertemu dengannya daripada bergembira. Kalau
saja dia mau “DIAM” pastinya lebih Anda sukai.
Ada juga
orang yang memang DENGKI kepada Anda dan hanya ingin membuat Anda “tersiksa”.
Ada juga
orang yang memang bertitel KRITIKUS, yang profesinya adalah mengkritik orang. Ia
memandang orang lain tak ubahnya MAKHLUK HITAM.
Sebuah pepatah
kuno milik pedangang mengatakan, “Kalau selera orang SAMA, barang dagangan
tidak akan pernah laku”.
Dahulu ada
sebuah HIKAYAT UNIK, ada seseorang pedalaman yang hari-hari hidup di
pelosok desa alias “NDESO”. Suatu saat ia ingin pergi bersama anak-anaknya
untuk melakukan sebuah keperluan, sang ayah berada di punggung keledainya,
sementara kedua anaknya berjalan di samping keledainya.
Sesampainya di
sebuah perkampungan lain, ia melewati sejumlah orang yang tengah berkumpul-kumpul,
salah satu dari mereka mengatakan, “Lihatlah seorang ayah yang KEJAM ini…
ia duduk di atas punggung keledainya keenakan sementara anaknya berjalan kaki
di bawah terik matahari yang menyengat…!”
Sang ayah
mendengar komentar itu, langsung “tanggap dan merespon dengan sigap”, segera ia
turun dari punggung keledainya dan menyuruh kedua anaknya menggantikan
tempatnya.
Belum berapa
langkah mereka tempuh, sang ayah merasa “tidak enak” juga. Tiba-tiba kebetulan
sekali ada orang lain yang melihatnya seperti itu berkomentar, “Lihatlah
anak-anak yang durhaka ini, dia tega membiarkan ayahnya berjalan kaki
disengat panasnya matahari dan disekap kucuran peluh!”.
Sang ayah
senangnya bukan main, “secepat kilat” ia LONCAT ke punggung keledainya karena
sejak tadi matanya MELIRIK ke punggung keledai itu. Nah kini semuanya bisa
merasakan enak.
Tapi…..
Belum lama
lagi melangkahkan kaki, keledai kurus itu berpapasan segerombolan kafilah
dagang yang lewat, ternyata salah satu dari mereka menyeletuk, “Lihatlah
orang-orang yang kejam ini, mereka tidak memiliki rasa KASIHAN kepada binatang
yang kurus ini, semoga Allah melaknat mereka”.
Sang ayah pun
turun dan berkata kepada anaknya, “Nak, ayo kita turun, kita semua jalan saja”.
Akhirnya keledai itu pun berjalan sendiri dan tidak ada yang menumpanginya.
Setelah berjalan
lagi, ternyata lagi-lagi ada yang berkomentar, “Lihatlah orang-orang yang bodoh
ini, mereka berjalan kaki membiarkan keledainya KOSONG tanpa penumpang,
bukankah keledai itu hewan tunggangan yang diciptakan untuk dinaiki?.”
Sang ayah
lalu BERTERIAK sekeras-kerasnya aaaaaaaaaaaaaa………….., lalu menarik tangan
anaknya berdua masuk ke bawah keledai itu dan memikulnya. Baru setelah
itu dia bersikeras untuk tidak memperhatikan komentar orang lagi.
Begitulah nasib
orang yang selalu menanggapi semua komentar orang. Padahal… keinginan semua manusia
itu tak akan pernah tercapai.
Oleh karenanya,
berpendirianlah jangan menghiraukan komentar yang menyiksa anda. Dan pesan
saya, jangan lupa tulis komentar anda di bawah, terserah mau berkomentar setuju
atau tidak, pokonya apa saja yang bisa di buat komentar silahkan ditulis
daaaannnn…..
Salam online dari ABU SA'D pemilik blog ARTIKEL SANTRI...
