"Kekuatan ilmu terletak pada bagaimana kita berbagi"
Berawal
dari kisah itulah muncul kata narcis yang kini akrab ditelinga kita,
khususnya para blogger. Dalam perkembangannya, narcis diartikan terlalu
membanggakan diri sendiri, terlalu percaya diri yang berlebihan. Suka
menampakkan sisi yang dirasa menonjol kepada orang lain.
Padahal
kalau kita mau mencermati kisah Narciscus, kita akan menyadari setiap
apa yang kita kerjakan. Menyadari bahwa manusia hanyalah sebutir pasir
di padang gurun. Kecil sekali. Kesombongan, apalah artinya. Bagi yang
ingin atau sudah bergelut di dunia blogging. Jika kita mau berpikir dan
merenung sejenak. Kita akan merasakan hal semacam ini. Kita akan selalu
dihinggapi pertanyaan-pertanyaan fundamental mengenai aktivitas blogging
kita.
Bagi
saya, aktivitas blogging adalah perjalanan menemukan jiwa saya yang
sebenarnya, jiwa yang pernah hilang. Dengan menuliskan perasaan-perasaan
yang ada dalam hati dan pikiran saya. Kelak, akan menemukan kesejatian
atas diri. Harapannya, kita benar-benar bisa menjadi seorang manusia
yang sebenarnya. Bukan hanya seonggok tubuh, tapi sebenarnya jiwanya
adalah binatang. Oh...
Blog,
memang hanya sekedar media. Sebuah kreativitas manusia dalam masyarakat
modern. Dulu, orang biasa menuliskan catatan-catatan hariannya lewat
buku (diary). Sifatnya rahasia, tak boleh diketahui oleh orang lain.
Bahkan kadang ada orang yang marah ketika tahu buku hariannya dibaca
orang lain.
Tapi,
dengan blog, catatan harian itu terbuka bagi siapa saja, setiap orang
boleh membacanya, bahkan mengomentarinya. Inilah perkembangan peradaban
manusia karena sentuhan teknologi. Blog menjadi media alternatif orang
berbagi cerita, informasi dan pengalaman. Dilihat dari sisi ini, blog
menjadi sebuah media yang perlu diapresiasi keberadaannya. Terserah
orang mau menggunakannya atau tidak.
Blog,
adalah rumah kita di dunia maya. Jiwa kita di dunia maya. Seperti
layaknya dalam kehidupan keseharian, sudah selayaknya kita juga perlu
saling berkunjung, menyapa tetangga-tetangga kita agar lebih akrab. Dan
juga, kita bisa belajar tentang kehidupan bersama tetangga-tetangga kita
itu. Begitulah, kehidupan di dunia blogging tak ubahnya hubungan kita,
interaksi kita di dunia nyata. Di sana kejujuran dan keramahan tetap
berlangsung. Jika ada yang mencoba tidak jujur, misalnya meng-copypaste
tulisan orang lain kemudian dianggap karya sendiri, percayalah,
kredibilitas seorang blogger dipertanyakan. Moralitasnya diragukan.
Maka, alangkah lebih baik jika kita menulis atas dasar kemampuan diri
sendiri. Walaupun singkat dan sederhana, itu akan lebih dihargai di
dunia blogging dibanding sekedar copypaste.
Nah, mulai sekarang teruslah menulis. Keep blogging. Suatu saat pasti menghasilkan. Kalau sedang buntu cobalah ikuti apa kata Anis Matta
"Jangan Pikirkan Apa yang akan Kamu Tulis,
Tapi Tulislah apa yang Ada dalam Pikiranmu".

ya itu kan copy paste yang diakui tulisannya, tapi kalo nyebutkan sumbernya khan masih ilmiah walapun masih kurang puas kalo nggak nulis sendiri.
BalasHapus