Ia tahu ia
hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang
dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran,tapi keahlian itu tidak
ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan
oleh manajeman Amerika. Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia
lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air
saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan
mereka insinyur? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah
aku bisa jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini selalu
tengiang-ngiang dalam dirinya.
Kejadian ini
akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan “DENDAM
POSITIF”Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu
bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir
setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak
jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya
menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat
perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim
ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang
geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia
pulang ke negerinya dan bekerja sebagai insinyur.
Kini ia sudah
menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang
dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja. Tidak, karirnya
melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar
ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain. Karirnya
melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai
akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi
yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu. Ada kejadian menarik
ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah
mengusirnya, kini justru jadi bawahannya.
Suatu hari
insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan
berkata; “Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak
mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku
berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan
perilakuku di masa lalu”Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja
rendahan ini: “Aku ingin berterima kasih padamu dari lubuk hatiku
paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci
padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga
aku meraih sukses ini. “Kini dendam positif lainnya sudah
tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya sampai di sini? Tidak.
Tahukah kisah siapa ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi
yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri
Perminyakan dan Mineral Arab Saudi. Terbayangkah, hanya dengan
mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa
lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling
berpengaruh di seluruh dunia. Itulah kekuatan “DENDAM POSITIF” Kita
tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita.
Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita.Tapi kita
sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya. Apakah ingin hancur
karenanya? Atau bangkit dengan semangat “Dendam Positif.”
http://aphamz.blogspot.com
