Abdullah
adalah seorang pemuda yang memiliki semangat tinggi, suatu hari ia keluar dari
rumahnya menuju masjid untuk mengikuti shalat Zhuhur. Ia terdorong oleh
ketekunannya dalam menunaikan shalat dan rasa hormat nya kepada agama. Ia
selalu mempercepat langkahnya khawatir shalat telah dimulai sebelum ia tiba di
masjid.
Dengan
nada dingin laki-laki tersebut menjawab: "Baik, Baik".
Abdullah langsung menimpali ucapannya:
"Cepat, Ayo shalat wahai 'keledai'".
Laki-laki
itu pun terperanjat dan memekik: "Hah, aku keledai katamu?!". Lantas
ia mencabut pelepah kurma dan turun untuk memukul kepala Abdullah. Secepat
kilat Abdullah menutupi wajahnya dengan ujung bajunya dengan harapan tidak
dikenali orang tersebut dan bergegas menuju masjid.
Sedangkan
laki-laki itu, ia turun sambil marah-marah. Lalu pulang ke rumahnya untuk
shalat dan istirahat sejenak. Kemudian ia kembali lagi ke pohon kurma nya untuk
meneruskan pekerjaannya.
Tiba
waktu Ashar, Abdullah pun berangkat ke masjid. Ia melewati pohon kurma itu lagi
dan ternyata laki-laki itu berada di atasnya.
Kali
ini Abdullah mengubah gaya interaksi nya.
Abdullah:
"Assalamu'alaikum. Apa kabar?"
Laki-laki:
"Alhamdulillah. Baik?"
Abdullah:
"Syukur lah. Bagaimana buahnya tahun ini?"
Laki-laki: "Alhamdulillah"
Abdullah:
"Mudah-mudahan Allah berkenan memberi Anda pertolongan dan rezeki yang
banyak. Dan mudah-mudahan Anda memperoleh hasil dari usaha dan kerja keras Anda
untuk keluarga dan anak-anak Anda".
Laki-laki
itu tampak sangat bergembira mendengar doa tersebut. Ia pun mengamini doa
tersebut dan berterima kasih padanya.
Lalu
Abdullah berkata: "Tapi tampaknya Anda terlalu sibuk sehingga tidak
mendengar adzan Ashar, adzan Ashar telah dikumandangkan dan sebentar lagi akan
iqamah. Sebaiknya anda turun untuk beristirahat dan menunaikan shalat, dan
setelah shalat anda bisa melanjutkan pekerjaan ini. Semoga Allah berkenan
menjaga kesehatan anda".
Laki-laki
itu menjawab: "Insya Allah, Insya Allah".
Dan
dia pun turun dari pohon kurma secara perlahan, kemudian menghampiri Abdullah
dan menjabat tangannya dengan hangat seraya bergumam: "Aku berterima kasih
atas akhlak yang mengagumkan ini. Sedangkan 'keledai' yang bertemu denganku
pada waktu Dzuhur tadi, sekiranya aku bisa melihatnya niscaya akan aku beri
pelajaran".
Lihatlah bagaimana anda mengetahui pengaruhnya cara
berinteraksi seseorang terhadap orang lain dalam mengajaknya untuk menuruti
kemauan nya. Begitu juga sebaliknya ketika cara mengikat hatinya salah, yang
dapat dipastikan adalah penolakan bahkan perlawanan.
Hal ini sangat jelas dan nampak pentingnya mempelajari
cara mendakwahi (mengajak) orang untuk menuju pada kebenaran setelah kita
mempelajari apa yang akan kita dakwahkan. Sebagaimana kebenaran itu berat di
hati maka jangan ditambah berat pula dengan cara penyampaikannya. Pilihlah
kata-kata dan bahasa yang lebih lunak di telinga dan lebih lembut di hati,
pelajarilah kunci-kunci hati mereka dengan harapan mereka juga mendapat
petunjuk sebagaimana kita juga mendapatkannya yang akhirnya kita akan mendapat
pahala yang besar di sisi Allah Ta'ala. Bukankah Rasulullah bersabda:
فَوَاللَّهِ
لأَنْ يَهْدِيَ الله بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لك من أَنْ يَكُونَ لك حُمْرُ
النَّعَمِ
"Demi
Allah seandainya Allah memberi petunjuk seseorang melalui dirimu itu lebih baik
daripada engkau memiliki seekor unta merah" (HR. Bukhori: 3973 dan Muslim:
2406)
Jadilah orang yang istimewa
Ketika ada dua orang berdialog di suatu tempat yang
diakhiri dengan pertengkaran, sementara ada dua orang lainnya berdialog dan
berakhir dengan damai dan memuaskan. Itulah keterampilan berdialog.
Mengapa
ada dua orang menyampaikan khutbah dengan materi dan kata-kata yang sama,
tetapi pada khatib yang pertama para audiens ada yang menguap, ada yang tidur,
ada yang asyik bermain karpet masjid dan ada yang sering mengubah-ubah posisi
duduknya. Sementara pada khatib yang
kedua seluruh audiens sangat antusias dan memberikan respon yang baik, mata
mereka nyaris tak berkedip. Itulah keterampilan berorasi.
Ketika
seseorang berbicara di dalam sebuah forum, semua orang mendengarkannya dan
memandang ke arahnya. Sementara ketika orang yang lain berbicara, para hadirin
sibuk mengobrol sendiri atau sibuk membaca SMS yang masuk ke ponsel nya. Itulah
keterampilan berbicara.
Mengapa
ketika seorang dosen berjalan di lorong-lorong kampus, anda melihat banyak
mahasiswa berada di sekitarnya; ada yang sekadar bersalaman, ada yang
berkonsultasi dan ada yang mengutarakan masalahnya, bahkan seandainya ia duduk
di kantornya dan mengizinkan mahasiswa masuk ke dalamnya, niscaya ruangannya
akan penuh sesak dalam sekejap, semua orang senang berbicara dengannya.
Sementara
dosen-dosen lainnya berjalan di kampusnya seorang diri dan keluar dari masjid
kampus seorang diri, tidak ada mahasiswa satu pun yang mendekatinya untuk
mengucapkan salam, berjabat tangan atau berkonsultasi, seandainya ia membuka
kantornya sejak terbit matahari hingga terbenam, siang malam non stop tidak ada
orang yang mau mendekatinya atau ingin berbincang dengannya. Mengapa?. Itulah
keterampilan bergaul dengan orang lain.
Mengapa
ketika seseorang memasuki sebuah forum yang terbuka untuk umum, semua orang
bersuka cita, cerah ceria, dan gembira ria menyambut kehadirannya. Semua orang
ingin duduk di sampingnya. Sementara ketika orang lain masuk, mereka menjabat
tangannya dengan dingin sekadar kebiasaan atau hanya basa-basi. Lalu ia harus
menengok ke sana ke mari untuk mencari tempat duduk yang kosong. Tidak ada
seorang pun yang sudi memberinya tempat duduk atau mengajaknya duduk di
sampingnya. Mengapa??. Itulah keterampilan menarik simpati dan mempengaruhi
orang lain.
Mengapa
ketika seorang ayah masuk ke rumahnya, maka anak-anaknya menyambutnya dengan
senyum indah dan menghampirinya dengan suka cita. Sementara ayah lainnya
menemui anak-anaknya tetapi mereka tak satu pun yang menghiraukannya. Itulah
keterampilan bergaul dengan anak-anak.
Hal
yang sama juga terjadi di masjid, walimah dan sebagainya.
Manusia
memiliki kemampuan dan keterampilan yang variatif dalam bergaul dengan orang
lain. Sehingga orang lain pun berbeda-beda dalam menyambut dan
memperlakukannya.
Semua
orang bisa terpengaruh dengan cara kita dalam bergaul, meskipun kita tidak
menyadarinya.
