Rabu, 08 Februari 2012

Pengaruh Cara Bergaul


Abdullah adalah seorang pemuda yang memiliki semangat tinggi, suatu hari ia keluar dari rumahnya menuju masjid untuk mengikuti shalat Zhuhur. Ia terdorong oleh ketekunannya dalam menunaikan shalat dan rasa hormat nya kepada agama. Ia selalu mempercepat langkahnya khawatir shalat telah dimulai sebelum ia tiba di masjid.
Di tengah jalan menuju masjid ia melihat sebatang pohon kurma yang kebetulan di atasnya ada seorang lelaki berpakaian kerja tengah sibuk mengurusi kurma. Terbetik keheranan pada diri Abdullah, siapakah orang yang tidak memperhatikan shalat ini? Seolah-olah telinganya sama sekali tak pernah mendengar suara adzan dan terlihat tidak sedang menunggu ditegakkannya shalat.
Dengan nada marah Abdullah menegurnya: "Hai, turunlah untuk shalat".
Dengan nada dingin laki-laki tersebut menjawab: "Baik, Baik".
 Abdullah langsung menimpali ucapannya: "Cepat, Ayo shalat wahai 'keledai'".
Laki-laki itu pun terperanjat dan memekik: "Hah, aku keledai katamu?!". Lantas ia mencabut pelepah kurma dan turun untuk memukul kepala Abdullah. Secepat kilat Abdullah menutupi wajahnya dengan ujung bajunya dengan harapan tidak dikenali orang tersebut dan bergegas menuju masjid.
Sedangkan laki-laki itu, ia turun sambil marah-marah. Lalu pulang ke rumahnya untuk shalat dan istirahat sejenak. Kemudian ia kembali lagi ke pohon kurma nya untuk meneruskan pekerjaannya.
Tiba waktu Ashar, Abdullah pun berangkat ke masjid. Ia melewati pohon kurma itu lagi dan ternyata laki-laki itu berada di atasnya.
Kali ini Abdullah mengubah gaya interaksi nya.
Abdullah: "Assalamu'alaikum. Apa kabar?"
Laki-laki: "Alhamdulillah. Baik?"
Abdullah: "Syukur lah. Bagaimana buahnya tahun ini?"
Laki-laki: "Alhamdulillah"
Abdullah: "Mudah-mudahan Allah berkenan memberi Anda pertolongan dan rezeki yang banyak. Dan mudah-mudahan Anda memperoleh hasil dari usaha dan kerja keras Anda untuk keluarga dan anak-anak Anda".
Laki-laki itu tampak sangat bergembira mendengar doa tersebut. Ia pun mengamini doa tersebut dan berterima kasih padanya.
Lalu Abdullah berkata: "Tapi tampaknya Anda terlalu sibuk sehingga tidak mendengar adzan Ashar, adzan Ashar telah dikumandangkan dan sebentar lagi akan iqamah. Sebaiknya anda turun untuk beristirahat dan menunaikan shalat, dan setelah shalat anda bisa melanjutkan pekerjaan ini. Semoga Allah berkenan menjaga kesehatan anda".
Laki-laki itu menjawab: "Insya Allah, Insya Allah".
Dan dia pun turun dari pohon kurma secara perlahan, kemudian menghampiri Abdullah dan menjabat tangannya dengan hangat seraya bergumam: "Aku berterima kasih atas akhlak yang mengagumkan ini. Sedangkan 'keledai' yang bertemu denganku pada waktu Dzuhur tadi, sekiranya aku bisa melihatnya niscaya akan aku beri pelajaran".
Lihatlah bagaimana anda mengetahui pengaruhnya cara berinteraksi seseorang terhadap orang lain dalam mengajaknya untuk menuruti kemauan nya. Begitu juga sebaliknya ketika cara mengikat hatinya salah, yang dapat dipastikan adalah penolakan bahkan perlawanan.
Hal ini sangat jelas dan nampak pentingnya mempelajari cara mendakwahi (mengajak) orang untuk menuju pada kebenaran setelah kita mempelajari apa yang akan kita dakwahkan. Sebagaimana kebenaran itu berat di hati maka jangan ditambah berat pula dengan cara penyampaikannya. Pilihlah kata-kata dan bahasa yang lebih lunak di telinga dan lebih lembut di hati, pelajarilah kunci-kunci hati mereka dengan harapan mereka juga mendapat petunjuk sebagaimana kita juga mendapatkannya yang akhirnya kita akan mendapat pahala yang besar di sisi Allah Ta'ala. Bukankah Rasulullah bersabda:
فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِيَ الله بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لك من أَنْ يَكُونَ لك حُمْرُ النَّعَمِ
"Demi Allah seandainya Allah memberi petunjuk seseorang melalui dirimu itu lebih baik daripada engkau memiliki seekor unta merah" (HR. Bukhori: 3973 dan Muslim: 2406)
Jadilah orang yang istimewa
Ketika ada dua orang berdialog di suatu tempat yang diakhiri dengan pertengkaran, sementara ada dua orang lainnya berdialog dan berakhir dengan damai dan memuaskan. Itulah keterampilan berdialog.
Mengapa ada dua orang menyampaikan khutbah dengan materi dan kata-kata yang sama, tetapi pada khatib yang pertama para audiens ada yang menguap, ada yang tidur, ada yang asyik bermain karpet masjid dan ada yang sering mengubah-ubah posisi duduknya. Sementara pada khatib yang kedua seluruh audiens sangat antusias dan memberikan respon yang baik, mata mereka nyaris tak berkedip. Itulah keterampilan berorasi.
Ketika seseorang berbicara di dalam sebuah forum, semua orang mendengarkannya dan memandang ke arahnya. Sementara ketika orang yang lain berbicara, para hadirin sibuk mengobrol sendiri atau sibuk membaca SMS yang masuk ke ponsel nya. Itulah keterampilan berbicara.
Mengapa ketika seorang dosen berjalan di lorong-lorong kampus, anda melihat banyak mahasiswa berada di sekitarnya; ada yang sekadar bersalaman, ada yang berkonsultasi dan ada yang mengutarakan masalahnya, bahkan seandainya ia duduk di kantornya dan mengizinkan mahasiswa masuk ke dalamnya, niscaya ruangannya akan penuh sesak dalam sekejap, semua orang senang berbicara dengannya.
Sementara dosen-dosen lainnya berjalan di kampusnya seorang diri dan keluar dari masjid kampus seorang diri, tidak ada mahasiswa satu pun yang mendekatinya untuk mengucapkan salam, berjabat tangan atau berkonsultasi, seandainya ia membuka kantornya sejak terbit matahari hingga terbenam, siang malam non stop tidak ada orang yang mau mendekatinya atau ingin berbincang dengannya. Mengapa?. Itulah keterampilan bergaul dengan orang lain.
Mengapa ketika seseorang memasuki sebuah forum yang terbuka untuk umum, semua orang bersuka cita, cerah ceria, dan gembira ria menyambut kehadirannya. Semua orang ingin duduk di sampingnya. Sementara ketika orang lain masuk, mereka menjabat tangannya dengan dingin sekadar kebiasaan atau hanya basa-basi. Lalu ia harus menengok ke sana ke mari untuk mencari tempat duduk yang kosong. Tidak ada seorang pun yang sudi memberinya tempat duduk atau mengajaknya duduk di sampingnya. Mengapa??. Itulah keterampilan menarik simpati dan mempengaruhi orang lain.
Mengapa ketika seorang ayah masuk ke rumahnya, maka anak-anaknya menyambutnya dengan senyum indah dan menghampirinya dengan suka cita. Sementara ayah lainnya menemui anak-anaknya tetapi mereka tak satu pun yang menghiraukannya. Itulah keterampilan bergaul dengan anak-anak.
Hal yang sama juga terjadi di masjid, walimah dan sebagainya.
Manusia memiliki kemampuan dan keterampilan yang variatif dalam bergaul dengan orang lain. Sehingga orang lain pun berbeda-beda dalam menyambut dan memperlakukannya.
Semua orang bisa terpengaruh dengan cara kita dalam bergaul, meskipun kita tidak menyadarinya.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;