Penyampaian
hadits dilakukan dengan sangat hati-hati, karena menyangkut masalah-masalah
agama. Hal ini sengaja dilakukan demi menjaga apabila dalam penyampaiannya
terjadi kesalahan. Sebagaimana dijelaskan oleh az-Zubair, "Mereka yang
kuat ingatannya telah menyampaikan hadits tanpa ada kesalahan, seperti Ibnu
`Abbas, Ibnu Mas`ud dan Abu Hurairah"
As-Sunnah disalin dengan sangat hati-hati, baik dengan jalan
hafalan maupun tulisan. Hal ini telah berlangsung sejak zaman Nabi Shalallahu
`alaihi wa sallam dan zaman para Sahabat sampai akhir abad pertama,
hingga kemudian lembaran-lembaran yang berisikan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu `alaihi wa sallam dikumpulkan pada masa `Umar bin `Abdul `Aziz. Di mana ia memerintahkan Abu Bakar bin Muhammad bin `Amr bin Hazm untuk menulis dan mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu `alaihi wa sallam yang sejak itu pula dimulai ilmu periwayatan hadits. Kata khalifah `Umar bin `Abdul `Aziz kepada Abu Bakar bin Muhammad, "Perhatikanlah hadits Rasulullah Shalallahu `alaihi wa sallam, lalu tulislah hadits-hadits itu, karena sesungguhnya aku khawatir akan hilangnya ilmu dengan wafatnya para ulama, dan janganlah diterima melainkan hadits Nabi Shalallahu `alaihi wa sallam saja." [1]
hingga kemudian lembaran-lembaran yang berisikan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu `alaihi wa sallam dikumpulkan pada masa `Umar bin `Abdul `Aziz. Di mana ia memerintahkan Abu Bakar bin Muhammad bin `Amr bin Hazm untuk menulis dan mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu `alaihi wa sallam yang sejak itu pula dimulai ilmu periwayatan hadits. Kata khalifah `Umar bin `Abdul `Aziz kepada Abu Bakar bin Muhammad, "Perhatikanlah hadits Rasulullah Shalallahu `alaihi wa sallam, lalu tulislah hadits-hadits itu, karena sesungguhnya aku khawatir akan hilangnya ilmu dengan wafatnya para ulama, dan janganlah diterima melainkan hadits Nabi Shalallahu `alaihi wa sallam saja." [1]
Setelah
Abu Bakar bin Muhammad menerima perintah khalifah, ia pun memerintahkan Ibnu
Syihab az-Zuhri, seorang ulama besar dan pemuka ahli hadits, untuk mengumpulkan
hadits Nabi Shalallahu `alaihi wa
sallam secara resmi.
Tentang
adanya periwayatan hadits, memang telah ditegaskan oleh Rasulullah Shalallahu
`alaihi wa sallam sendiri dalam salah satu sabdanya:
"Artinya : Sekarang kalian mendengar, dan kalian nanti
akan didengar, dan akan didengar pula dari orang yang mendengar dari
kalian." [2]
Maksudnya,
para Shahabat mendengar hadits-hadits dari Nabi Shalallahu `alaihi wa sallam,
melihat perbuatan-perbuatan beliau, sifat-sifat beliau, dan segala perbuatan
yang ditaqrir oleh beliau, kemudian para Shahabat meriwayatkannya
(sesudah Nabi Shalallahu `alaihi wa sallam wafat), riwayat para Shahabat
akan didengar, diperlihatkan, dan dicatat oleh para Tabi'in. Begitu
selanjutnya, para Tabi'in yang mendengar hadits dari para Shahabat akan
meriwayatkan lagi, yang juga akan didengar dan dicatat oleh Tabi`ut Tabi`in.
Bagai roda yang terus berputar, hadits-hadits Nabi Shalallahu `alaihi wa
sallam akan senantiasa diriwayatkan, diperlihatkan, didengar dan dicatat
oleh imam pencatat hadits dalam kitab-kitab mereka, seperti Imam Malik, Ahmad,
asy-Syafi`i, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan yang lainnya. Kitab-kitab
mereka ini terpelihara dengan baik dari zaman ke zaman yang akhirnya sampai
kepada kita dan insya Allah terus terpelihara hingga akhir zaman.
Kemudian setelah thabaqah Abu Bakar bin Muhammad bin `Amr bin Hazm
(wafat th. 117 H) dan Muham-mad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri (wafat th. 124
H), datanglah thabaqah kedua dengan pendiwanan (pembukuan) yang
dilakukan secara resmi pula. Mereka ini terdiri dari ulama-ulama besar dan
pemuka-pemuka ahli Hadits, di antaranya ialah:
1. Ibnu Juraij di Makkah
2. Sa'id bin Arubah
3. Al-Auza`i di Syam
4. Sufyan ats-Tsauri di
Kufah
5. Imam Malik bin Anas di
Madinah
6. `Abdullah Ibnu Mubarak
7. Hammad bin Salamah di
Bashrah
8. Husyaim
9. Imam asy-Syafi'i
Mereka ini semuanya dari generasi Tabi'ut Tabi`in yang hidup pada
zaman kedua Hijriyah. Cara pengumpulannya masih bercampur dengan
perkataan-perkataan Shahabat dan fatwa-fatwa Tabi'in. Di antara kitab-kitab
hadits yang paling masyhur pada abad ini ialah kitab al-Muwaththa` yang disusun
oleh Imam Malik bin Anas. Kemudian pada permulaan abad ketiga Hijriyah,
bangkit kembali pemuka-pemuka ahli hadits yang membukukan hadits-hadits Nabi Shalallahu
`alaihi wa sallam secara resmi. Dalam pengumpulan kali ini mereka menempuh
dua cara, yaitu:
Pertama:
Khusus mengumpulkan hadits-hadits yang shahih saja. Orang
yang pertama kali mengumpulkannya ialah:
- Imam al-Bukhari
(Muhammad bin Isma`il al-Bukhari, lahir th. 194 H - wafat th. 256 H)
- Imam Muslim (Muslim bin
Hajjaj an-Naisaburi, lahir th. 204 H - wafat th. 261 H)
Kedua:
Hanya mengumpulkan hadits-hadits Nabi Shalallahu `alaihi wa
sallam saja tanpa membedakan mana yang shahih dan mana yang tidak.
Dalam kitab-kitab mereka ini terdapat hadits-hadits shahih, hasan dan dha`if,
bahkan ada pula yang maudhu' (palsu). Kitab-kitab yang masyhur pada abad ketiga
Hijriyah, antara lain :
1. Musnad Ahmad bin Hanbal
(164 - 241 H)
2. Shahih al-Bukhari (194
- 256 H)
3. Shahih Muslim (204 -
261 H)
4. Sunan Abu Dawud (202 -
275 H)
5. Sunan ad-Darimi (181 -
255 H)
6. Sunan Ibni Majah (209 -
273 H)
7. Sunan an-Nasa-i (225 -
303 H)
Sedangkan
kitab-kitab yang masyhur pada abad keempat Hijriyah, antara lain:
1. Shahih Ibnu Khuzaimah (223 - 311 H)
2. Mu'jamul Kabir, Mu'jamul Ausath, dan
Mu'jamush Shaghir, yang disusun oleh ath-Thabrani (260-340 H)
3. Sunan ad-Daraquthni (306 - 385 H)
4. Al-Mustadrak al-Hakim (321 - 405 H)
Manuskrip-manuskrip para ulama ini terpelihara dengan rapi di
berbagai perpustakaan dunia Islam. Kitab-kitab tersebut disalin dan dicetak
ulang hingga tersebar ke berbagai pelosok dunia Islam. Kemudian kitab-kitab itu
disyarah lagi oleh para ulama, ditahqiq, dan diringkas sanadnya. Demikianlah
mata rantai yang tiada putus-putusnya dari rawi ke rawi terjaga dengan baik.
Oleh karena itu, sudah semestinya kita mempercayainya. Walaupun ada orang-orang
yang mencoba untuk membuat riwayat-riwayat palsu. Tapi para ulama telah
membahas dan meneliti serta menerangkan dengan jelas dalam kitab-kitab khusus
yang membahas tentang hadits-hadits dha'if dan palsu, sehingga dengan demikian
tidak menimbulkan keraguan lagi dalam menerima hadits-hadits yang benar-benar
berasal dari Rasulullah Shalallahu `alaihi wa sallam .
Pada
abad sekarang ini ada seorang pakar hadits yang bernama Syaikh al-Imam Muhammad
Nashiruddin al-Albani, beliau telah menyeleksi kitab-kitab Sunan dari Kutubus
Sab`ah dengan membedakan antar yang shahih dan yang dha'if, kitab-kitab ini
sudah dicetak. Di antaranya:
1. Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Dha'if Sunan
at-Tirmidzi,
2. Shahih Sunan Abi Dawud dan Dha'if Sunan Abi
Dawud,
3. Shahih Sunan an-Nasa`i dan Dha'if Sunan
an-Nasa`i,
4. Shahih Sunan Ibni Majah dan Dha'if Sunan
Ibni Majah,
5. Shahih al-Adabul Mufrad dan Dha`if
al-Adabul Mufrad,
6. Shahih Mawariduzh Zham`an dan Dha`if-nya,
7. Shahih at-Targhib wat Tarhib dan
Dha`if-nya, dan kitab-kitab yang lainnya.
Bila
mata rantai yang tiada putusnya dari zaman Rasulullah Shalallahu `alaihi wa
sallam, para Shahabat, Tabi'in, Tabi`ut Tabi'in dalam penulisan hadits dan
pembukuannya masih diragukan, maka orang yang meragukan adalah orang-orang yang
zindiq, kufur, dan termasuk orang-orang yang paling bodoh di dunia tentang
As-Sunnah, bahkan dihukumi keluar dari Islam. Dihukumi kafir karena dia telah
menolak hujjah-hujjah As-Sunnah dan meragukan kebenaran yang datang dari
Rasulullah Shalallahu `alaihi wa sallam.
[Disalin dari buku
Kedudukan As-Sunnah Dalam Syariat Islam, Bab V : Bantahan Bagi Para Penentang
As-Sunnah, Penulis Yazid Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO.Box
264 Bogor 16001, Jawa Barat Indonesia, Cetakan Kedua Jumadil Akhir 1426H/Juli 2005]
__________
Foote Note
[1]. HR. Al-Bukhari dalam Kitabul `Ilmi bab
Kaifa Yuqbadhul `Ilmu? (Fat-hul Baary I/194) dan ad-Darimy (I/126).
[2]. Hadits shahih riwayat Ahmad (I/321), Abu
Dawud (no. 3659), al-Hakim (I/95) dan Ibnu Hibban (Shahih Mawariduzh Zham`an
no. 65), dari jalan Ibnu `Abbas Radhiyallahu 'anhu.
